Pages

Senin, 02 Desember 2013

Sami’na wa atho’na (Kami Dengar dan Kami Taat)

*Oleh: Riki Efendi


Dahulu, pada masa awal dakwah Rasulullah, setiap perintah dan larangan yang datang selalu direspon umat di masa itu dengan menggunakan instrumen keimanan. Tidak peduli apakah ia, menguntungkan atau merugikan, mudah ataupun sulit. Semangat keimanan melahirkan ruh-ruh keta’atan. Sami’na wa atho’na. Kami dengar dan kami taati. Termasuk di dalamnya ketika muncul kasus pengharaman babi secara kontekstual dalam Al-Qur’an. Para sahabat tidak lantas sibuk menanyakan dan bertanya-tanya. Kenapa? Apa bahayanya? Buah keimanan adalah munculnya khudznudzon mereka kepada Allah. Yakin bahwa di dalam larangan itu pasti ada kebaikan.

Maka kita sebagai seorang hamba, kita harus mendahulukan substansi “sami’na wa’atho’na” dan bukan “sami’na, sebentar, saya pikir-pikir dulu mau tho’at atau tidak?” Keimanan itu memang proses. Sebagaimana keimanan nabi Ibrahim, penghulu tauhid. Tapi setelah beriman, setiap resiko keimanan itu tidak lagi ditimbang-timbang. Tidak lagi kita ikuti ia dengan persangkaaan-persangkaan. Saya dengar dan saya ta’at dan bukan kemudian menantikan penjelasan efek-efeknya. Baik mudharat (efek negatif) maupun maslahatnya (efek positif). Yang jelas Allah mengganjar syurga bagi hamba-hambanya yang mena’atinya. Ini dicantumkan Allah dalam firmannya, Q.S. An-Nisa’: 13 “(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.”


Iblislah, Penghulu Gerakan Anti-Sami’na wa’atho’na

Malaikat saat dititahkan untuk bersujud pada nabi Adam, tanpa banyak pertanyan dan pemikiran segera bersujud. Malaikat mendengarkan dan mereka taati. Sedangkan iblis laknatullah, penghulunya para pembangkang. Membantah perintah itu. Dan ia malah memberikan argumen-argumen. Seakan ia merasa lebih tahu dibandingkan Allah. Menganggap perintah Allah itu perlu untuk diinterupsi dan kemudian bisa direvisi. Menganggap Allah bisa saja salah bertindak ataupun memerintahkan. Ia merasa materi pembentuk fisiknya lebih mulia. Dan ia terusir. Bukan saja dari syurga. Tapi terusir dari sisi Allah. Dengan akhir pedih, penuh penderitaan.


Kenapa Sami’na Wa atho’na?

Kondisi penduduk Mekkah dan Madinah masih ummy (buta huruf). Sehingga perantaran dakwah melalui media tulisan menjadi sangat tidak efektif. Jadilah setiap perintah dan larangan disampaikan langsung dari mulut ke telinga. Sami’na wa atho’na. Setiap perintah itu mesti didengarkan dan ditaati. Dan kemudian nilai-nilai mendengar itu ditarik hingga ke masa sekarang, dimana kita tidak bisa lagi mendengar langsung perintah dan larangan dari lisan Rasulullah. Sehingga jadilah kita, meskipun kemudian mendengar perintah dan larangan itu bukan dari Rasulullah saw atau malah dari sumber bacaan. Tetap saja secara substansi saat itu kita adalah mendengar.
Sami’na wa’atho’na hanya dilakukan pada tahapan kontekstual sebuah perintah. Dan pada tahapan telaahan-telaahan dari para ulama. Maka seseorang sudah boleh menggunakan pikirannya untuk memilih dari berbagai ragam hasil kesimpulan ulama tersebut. Tentu dengan tidak lari dari tema sami’na wa’atho’na itu sendiri.


(dari ringkasan Kajian Aqidah Ustadz Kamino di Masjid MBM, Purnawarman)



Sumber : klik

Kamis, 28 November 2013

Alloh Tutup Aib Ku

Jika aku besok hilang maka jangan pernah kau cari aku.
jika raga ini terpisah dengan ruhnya, jangan kau heran.
aku adalah raga calon penghuni kubur yang tak tau akan berakhir di kekekalan yang mana?
karna amalku tak cukup banyak untuk menebus syurganya Alloh itu.
keburukan ku yang merusak seluruh amalan amalan ku.
terasa kering kerontang hati ini jauh dari ayat ayat illahi

mengubur diri dalam kesunyian yang ramai
aku rindu itu aku menginginkan itu
tampak kesuraman ini tercermin dalam wajah lusuh ku
aku rindu air wudhu yang tak pernah kering di wajah ku
aku rindu berlama lama dalam sujud ku
aku rindu menyebut asma Mu dalam dzikirku
aku rindu ketenangan bathin yg ku dapatkan dalam sholat ku

kemana? kemana semua itu??
aku lalai dalam sholat ku
aku lalai dalam amal ku
aku lalai dalam dzikir ku
aku lalai.

merancu, terbakar oleh hati yang gersang dari ketenangan ruhani islami
aku membakarnya aku mengeringkannya aku lalai.

sudah harus ku cukupkan ini semua, aku harus melangkah jauh meninggalkan semua ini.
karna hidup ku tak boleh berakhir hitam.

Selasa, 26 November 2013

Filosofi Hitam



"Hati yg Hitam terjebak jelaga kesombongan"

salah satu kutipan lirik lagu dari AntiMammon yang berjudul Filosofi Hitam.

Yah mungkin sombong salah satu hal yang bisa menghitamkan hati, entahlah apa yang harus di sombongkan oleh kita? apa yang mau kita sombongkan apa?!
setiap hari tak sedikit hal yang tidak berguna yang selalu kita lakukan, yah mengotori hati dengan kesombongan.
kesombongan adalah salah satu penyakit hati yang jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik karena bisa mengakibatkan kesengsaraan di neraka yang abadi.

Jabatan?
kekayaan?
gelar pendidikan?
itukah yang mau kita sombongkan??

tidak ingatkah kita akan Firman Alloh SWT dalam surah Al Israa’ ayat 37 yang artinya :

“Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

Alloh sudah memperingatkan kita akan hal ini, masihkah kita akan berlaku sombong?

ingat! Alloh sangat tidak menyukai manusia-manusia yg sombong terhadap manusia yang lain apa lagi terhadap Tuhannya.

“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q:S: Luqman : 18]

apa yang kita cari dari sebuah kata "SOMBONG" ??
hadiahkah? atau kepuasan batin? hmm...
tapi jangan khawatir bagi orang-orang yg selalu berlaku sombong, Alloh sudah menyediakan hadiah istimewa untuk kalian. Neraka Jahannam hadiah spesial buat kalian manusia-manusia yang sombong.

Lihat Al Mu’min ayat 76, yang artinya :
“Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .”

saat kita lahir kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Kita tidak punya kekayaan apa-apa. Bahkan pakaian pun tidak. Kecerdasan pun kita tidak punya. Namun karena kasih-sayang orang tua-lah kita akhirnya jadi dewasa.

Begitu pula saat kita mati, segala jabatan dan kekayaan kita lepas dari kita. Kita dikubur dalam lubang yang sempit dengan pakaian seadanya yang nanti akan lapuk dimakan zaman.

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ “Uluumuddiin menyatakan bahwa manusia janganlah sombong karena sesungguhnya manusia diciptakan dari air mani yang hina dan dari tempat yang sama dengan tempat keluarnya kotoran.

Bukankah Allah mengatakan pada kita bahwa kita diciptakan dari air mani yang hina:

“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?” [Al Mursalaat 20]

Saat hidup pun kita membawa beberapa kilogram kotoran di badan kita. Jadi bagaimana mungkin kita masih bersikap sombong?

yuk bro/sist kita terus semangat perbaiki diri agar kita termasuk orang2 yang terhindar dari sifat Sombong.

Wallahu A'lam Bishawab

check out vclip @AntiMammonBand - Filosofi Hitam >> youtu.be/SXTFSjwI9L8

Check out "Filosofi Hitam" by Anti-Mammon (Indonesia) -http://www.reverbnation.com/antimammonindonesia/song/18328113-filosofi-hitam  




Kamis, 13 Juni 2013

RENUNGAN: Ayat-Ayat Anti Galau

Tags yang terkait dengan galau, quran, alquran, ayat, anti galau, arti galau, galau in english, galau meaning, lagu galau, galau adalah, kata kata galau kata galau, galau yovie nuno.Renungan ini sangat cocok buat Anda yang suka galau ataupun mengeluh. Inilah jawaban Sang Maha Pencipta untuk manusia yang selalu mengeluh:
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم ...

Ketika kita mengeluh: “Ah mana mungkin .....” Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki, cukup Ku berkata “Jadi”, maka jadilah (QS. Yasin ; 82).
 
Ketika kita mengeluh : “Capek banget gw....” Allah menjawab : “...dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat ” (QS.An-Naba :9). Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah, gak sanggup rasanya...” Allah menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan nya.” (QS. Al-Baqarah : 286).
Ketika kita mengeluh : “Stressss nih ... Panik ...” Allah menjawab : “Hanya dengan mengingatKu hati akan menjadi tenang”. (QS. Ar-Ro’d :28).

Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh ... ini mah semua bakal sia-sia ..” Allah menjawab :”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasan nya”. (QS. Al-Zalzalah :7). Ketika kita mengeluh : “Gile aje .. gw sendirian .. gak ada seorangpun yang mau bantuin ...” Allah menjawab : “Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60).

Ketika kita mengeluh : “ Duh .. sedih banget deh gw ...” Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40).
 
Ketika kita mengeluh "duuh gw udah putus asa banget nih ..!" Allah menjawab : “...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. ( QS.Yusuf : 87).
 
Ketika kita mengeluh : "Gw benci banget, kenapa hal ini harus terjadi dalam hidup gw.." Allah menjawab : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216).
 
Semoga bermanfaat..Al Quran is the best solution for the problems.
Tags yang terkait dengan galau: quran, alquran, ayat, anti galau, arti galau, galau in english, galau meaning, lagu galau, galau adalah, kata kata galau, kata galau, galau yovie nuno. 
 
Sumber : http://www.sholat-dhuha.info/2012/11/renungan-ayat-ayat-anti-galau.html#.Ubo-cdgQrAI

7 Fadhilah Sholat Dhuha Yang Harus Diketahui

Shalat merupakan kunci diterima atau ditolaknya keseluruhan ibadah yang telah dilakukan seorang mukmin. Dalam sebuah hadits diterangkan bahwa yang pertama dihisab oleh Allah Swt. dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Sebaiknya, jika shalatnya rusak, maka seluruh amalnya juga akan turut rusak. Karenanya, shalat yang kita kerjakan harus benar-benar terjaga kesempurnaannya. Salah satu cara menyempurnakan shalat wajib adalah dengan melaksanakan shalat sunat.

Banyak sekali pilihan shalat sunat yang dapat kita kerjakan untuk menyempurnakan pahala shalat wajib yang telah kita kerjakan. Sebut saja shalat sunat rawatib yang biasa kita kerjakan sebelum dan setelah mengerjakan
shalat lima waktu. Selain shalat sunat rawatib, kita juga mengenal banyak sekali jenis shalat sunat di antaranya adalah Tahiyatul Masjid, Syukrul Wudhu, Tahajud, Witir, serta Dhuha. Yang disebutkan terakhir kerap terlupakan karena meski kita tahu fadhilahnya tapi karena waktu pelaksanaannya bertepatan dengan dimulainya aktivitas harian, maka shalat Dhuha sering tidak dikerjakan.


Ya, shalat Dhuha ialah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik, yaitu kira-kira setinggi lebih kurang 7 (tujuh) hasta atau sekitar setinggi satu tombak, antara pukul 08.00 pagi sampai dengan masuk waktu Dzuhur (sekitar pukul 11.00 siang).

Shalat Dhuha hukumnya sunat muakad (sangat dianjurkan dan mendekati wajib) karena Rasulullah senantiasa mengerjakannya dan berpesan kepada para sahabat untuk mengerjakannya juga. Shalat Dhuha juga merupakan wasiat Rasul kepada umatnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits. “Abu Hurairah r.a. menceritakan, ‘Kekasihku Rasulullah Saw. memberi wasiat kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah kutinggalkan hingga meninggal dunia: shaum tiga hari dalam sebulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan hanya tidur setelah melakukan shalat Witir” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Tentu saja, Rasulullah Saw. tidak akan mengistimewakan shalat Dhuha tanpa alasan. Berikut beberapa fadhilah atau keutamaan shalat Dhuha yang menjadikannya begitu istimewa di mata Rasullah Saw.

Pertama, shalat Dhuha merupakan ekspresi terima kasih kita kepada Allah Swt. atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi dalam tubuh kita. Menurut Rasulullah Saw., setiap sendi dalam tubuh kita yang jumlahnya 360 ruas setiap harinya harus diberi sedekah sebagai makanannya.

“Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang bersangkutan (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya.” Lalu, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah Saw., siapa yang sanggup melakukannya?” Rasulullah Saw. menjelaskan, “Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan sesuatu (yang dapat mencelakakan orang) dari jalan raya, apabila ia tidak mampu maka shalat Dhuha dua rakaat dapat menggantikannya.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

Kedua, shalat Dhuha merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan nikmat Allah Swt. sepanjang hari yang akan dilalui, entah berupa nikmat fisik maupun materi. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari, yaitu shalat Dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore harinya.’” (H.R. Al-Hakim dan At-Tabrani)

Lebih dari itu, momen shalat Dhuha merupakan saat kita mengisi kembali semangat hidup baru. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin. Di sinilah ruang kita menanam optimisme hidup. Kita tidak sendiri menjalani hidup ini. Ada Sang Maharahman yang senantiasa akan menemani kita dalam menjalani hidup sehari-hari.

Ketiga, shalat Dhuha sebagai pelindung untuk menangkal siksa api neraka di hari pembalasan (kiamat) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi Saw. dalam haditsnya, “Barangsiapa melakukan shalat Fajar, kemudian ia tetap duduk di tempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya Allah Swt. akan mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (H.R. Al-Baihaqi)

Keempat, bagi orang yang merutinkan shalat Dhuha, niscaya Allah mengganjarnya dengan balasan surga. Rasulullah Saw. bersabda, “Di dalam surga terdapat pintu yang bernama Bab Adh-Dhuha (Pintu Dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada yang akan memanggil, ‘Dimana orang yang senantiasa mengerjakan shalat Dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.’” (H.R. At-Tabrani)

Kelima, pahala shalat Dhuha setara dengan pahala ibadah haji dan umrah. “Dari Abu Umamah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan umrah.’” (Shahih Al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa, “Nabi Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang mengerjakan shalat Fajar (Shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna.’” (Shahih Al-Jami: 6346)

Keenam, tercukupinya kebutuhan hidup. Orang yang gemar melaksanakan shalat Dhuha ikhlas karena Allah akan tercukupi rezekinya. Hal ini dijelaskan Rasulullah Saw. dalam hadits qudsi dari Abu Darda. Firman-Nya, “Wahai Anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena aku pada awal siang (shalat Dhuha) empat rakaat, maka aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari.” (H.R. Tirmidzi)

Ketujuh, memperoleh ghanimah (keuntungan) yang besar. Dikisahkan, Rasulullah mengutus pasukan muslim berperang melawan musuh Allah. Atas kehendak Allah, peperangan pun dimenangkan dan pasukan tersebut mendapat harta rampasan yang berlimpah. Orang-orang pun ramai membicarakan singkatnya peperangan yang dimenangkan dan banyaknya harta rampasan perang yang diperoleh. Kemudian Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa ada yang lebih utama dan lebih baik dari mudahnya memperoleh kemenangan dan harta rampasan yang banyak yaitu shalat Dhuha.

“Dari Abdullah bin Amr bin Ash ia berkata, Rasulullah Saw. mengirim pasukan perang. Lalu, pasukan itu mendapat harta rampasan perang yang banyak dan cepat kembali (dari medan perang). Orang-orang pun (ramai) memperbincangkan cepat selesainya perang, banyaknya harta rampasan, dan cepat kembalinya mereka. Maka, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Maukah aku tunjukan kepada kalian sesuatu yang lebih cepat dari selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan cepatnya kembali (dari medan perang)? (Yaitu) orang yang berwudhu kemudian menuju masjid untuk mengerjakan shalat sunat Dhuha. Dialah yang lebih cepat selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan lebih cepat kembalinya.’” (H.R. Ahmad)

Menilik banyaknya fadhilah di atas, cukup beralasan kiranya bila Nabi Saw. menghimbau umatnya untuk senantiasa membiasakan diri melaksanakn shalat Dhuha. Dengan mengetahui fadhilah-fadhilah tersebut, diharapkan kita lebih termotivasi untuk beristiqamah melaksanakan shalat Dhuha agar tercapai tujuan bahagia dunia dan akhirat. Amin.
Sumber: majalahpercikaniman.blogspot.com 
http://www.sholat-dhuha.info/2011/09/7-fadhilah-sholat-dhuha-yang-harus.html#.Ubo2wtgQrAI